Bandung Lautan Api
.
Pagi ini, udara di Bandung berhembus dan
menyejukan hati. Aku dan Bang Toha adalah saudara kandung. Kami tinggal di suatu rumah yang sangat sederhana. Sembari sarapan kami mengobrol tentang hal-hal yang akan dikerjakan hari ini.
Kami adalah dua bersaudara yang telah ditinggal orang tua. Sejak kecil orang tua kami telah tiada. Sekarang sedang terjadi konflik di kota kami. Aku berbicara agak berbisik kepada Bang Toha,
"Bang, sebaiknya jangan pergi untuk melawan sekutu, Aku takut kehilangan abang"
"Dek, abang melawan sekutu demi kota kita ini, demi Indonesia", ucap Bang Toha.
Aku hanya terdiam dan tidak bisa menjawab apa-apa. Setelah itu, dengan tergegas Bang Toha pergi meninggalkan ku untuk bertugas.
Pada hari ini, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan. Aku selalu cemas dengan keadaan Bang Toha. Setelah rumahku terbakar, Aku juga pergi ke pegunungan selatan bersama rakyat lainnya. Rakyat tidak rela jika Kota Bandung dimanfaatkan sekutu, maka dari itu hal ini dilakukan.
Aku sangat ketakutan, Asap mengebul dimana-mana. Yang bisa kulakukan hanya berdoa agar semua baik-baik saja. Setelah itu, dikabarkan pabrik mesiu milik sekutu telah dihancurkan. Yang aku pikirkan hanya satu, Bang Toha.
Bang Toha telah pergi bertugas selama beberapa hari. Seusai aku shalat dan berdoa, Aku mendapat kabar bahwa bang Toha gugur. Aku tidak kuasa menahan tangis sambil meneriakan namanya. Hidupku terasa hampa. Ternyata Bang Toha diutus bersama temannya yang bernama Ramdan untuk meledakan pabrik mesiu tersebut dan melakukan perlawanan secara gerilya terhadap sekutu. Tapi apa, nasi sudah menjadi bubur.
Satu hal yang dapat kumengerti adalah abangku rela memberikan nyawanya untuk kota dan negara yang dicintainya. Aku bangga karena apa yang diinginkannya tercapai. Peristiwa ini akan selalu kukenang sampai akhir hayatku. Peristiwa pada bulan Maret 1946, dimana saat itu terukir sejarah yang mengharukan.
Comments
Post a Comment